RAINBOW
May 4th, 2008 by salamatahariiii(matahari jam empat sore)
I never like the rain
But one day, it humbly bowed down
In its untouchable way, it became touchable
(matahari jam empat sore)
I never like the rain
But one day, it humbly bowed down
In its untouchable way, it became touchable
Jadi, Dea baru aja mindahin postingan2 dari blog ini ke blog yang lebih sejati di :
http://salamatahari.blogspot.com/
Maen2 ke sana, ya …. =D
(matahari jam dua belas siang)
matahari adalah cahaya sekaligus api
(matahari jam empat sore)
Pada suatu
Senin sore yang cerahsekali,
Tobucil
kedatangan teman baru. Namanya Oom Olivier. Sambil ngopi-ngopi, dia menunjukkan koleksi foto-foto Bandung kunonya.
Pada suatu
Senin sore yang cerahsekali,
Mbak Tarlen,
Dea, dan Oom Olivier baur dalam obrolan
yang juga hangat dan cerahsekali. Kami
mencoba menebak lokasi yang terdapat
dalam foto-foto Oom Olivier; membandingkan wajah Bandung dulu dan kini. Kamu
pasti nggak bisa membayangkan Braga di tahun 1900, Kimia Farma yang dulunya
toko cerutu, lampu lalu lintas yang seperti rumah burung, atau Jalan Asia
Afrika yang dahulu kala teduh dan rimbun.
Namun …
Pada suatu
Senin sore yang cerahsekali,
Dea menemukan sebatang korek api; tergeletak di bawah kursi bersama sayap kupu
yang cuma sebelah. Tadi, si kupu pasti terbang untuk membakar langit. Kemudian
korek apinya jatuh bersama ranggas sayapnya, tertiup sampai Tobucil.
Lalu Dea mengerti mengapa Senin sore itu jadi
cerahsekali …
Tulisan ini bisa ditemukan juga di http://tobucil.blogspot.com/
(matahari jam enam kurang, sore-sore)
"Saya sepenuhnya yakin DIA tidak sedang bermain dadu."
-Albert Einstein-
Malam sudah sangat larut ketika Tuhan selesai menciptakan beberapa manusia.
“Tinggal dikemas, nih,” kata Tuhan puas. “Besok pagi saja, Tuhan, mata Anda sudah merah,” saran seorang malaikat. “Sekarang saja, ah, Saya tak suka menunda pekerjaan,” kata Tuhan sambil menguap. Maka, meskipun dengan mata merah dan berkantung, Tuhan menuntaskan pekerjaan-Nya.
Karena sudah lelah Tuhan salah packing. Ada laki-laki yang dikemas dalam tubuh perempuan dan perempuan yang dikemas dalam tubuh laki-laki.
Setelah menulis cerita itu saya merenung. Masa, sih, kejadiannya begitu amat? Sekenal Dea Tuhan sangat hati-hati. Apa mungkin Dia membuat malpraktek demikian parah? Kalau bukan malpraktek, apa yang terjadi di surga saat Tuhan menciptakan waria?
Akibat perenungan tersebut, lahirlah cerita lainnya :
Tuhan adalah seniman post-modernis. Pada suatu hari Dia menciptakan perempuan dengan kemasan laki-laki dan laki-laki dengan kemasan perempuan.
“Apa tidak terlalu kontroversial, Tuhan,” tanya seorang malaikat. “Namanya juga karya seni,” tanggap Tuhan. Dengan kasih dan pemikiran yang tidak sembarangan, Dia mengirim karya-Nya ke dunia.
Setelah menulis cerita itu Dea merenung lagi. Kalau waria memang karya seni, kenapa Ia membenturkan mereka dengan dosa, hukum-Nya sendiri ?
Pertanyaan itu menjadi “bekal” kelanjutan cerita Dea :
“Tuh, kan, Tuhan, apa kata saya? Waria-waria itu menjadi masalah. Karena isi dan kemasan tidak sesuai konvensi, mereka berdosa,” kata malaikat. Dengan kasih Tuhan menatap para waria, “Memangnya siapa yang menentukan konvensi dan dosa,” tanya Tuhan dengan suara-Nya yang berat, dalam, dan arif. “Lho, bukannya Anda,” Malaikat balik bertanya. Tuhan mengangkat wajah-Nya yang bersinar. Ditatap-Nya malaikat dengan senyum penuh rahasia.
….
(bersambung di renungan teman-teman masing-masing)
(matahari jam dua belas siang, saatnya menjemur krupuk)
Sebetulnya, semua ikan yang Dea makan adalah ikan tuna.
Kenapa?
Karena mereka semua tuna nyawa.
(matahari jam delapan pagi)
Gadis kecil,
tidak perlu terus berpegangan
pada pohon dan akar
Berlari-larilah.
Meskipun dunia berputar,
kamu tidak akan jatuh terlempar.
Karena gravitasi
selalu menggenggam tanganmu erat-erat …
(matahari jam tujuh pagi)
One day, I losted I.
It wasn’t leaved inside my bag,
and wasn’t slipped among little stuffs in my pocket.
I tried to find I in the deepest I.
Carefully explored things inside I.
Focusedly put my eyes in every element of I.
But still,
I couldn’t see I.
In my desperated,
I raised up my head.
Then I saw lots of me.
In the market, in the bus, in the streets, in the eyes of people …
And the I,
was being completed there …
(matahari jam lima lewat lima belas pagi)
Tuhan memercikkan benih-benih bayi dari langit. Benih yang jatuh pada Ibu menjadi anak-anak, benih yang jatuh ke tanah menjadi bunga.
( Simon, 6 tahun )
Sebetulnya Dea sudah punya persepsi tentang anak-anak, tapi supaya lebih yakin dan bisa berbahasa seperti mereka, ketika memutuskan untuk menulis novel Dunia Adin ini Dea terjun ke tengah-tengah mereka. Dea melakukan observasi di SDK Yahya dan Sanggar Kreativitas Bumi Limas.
Kemudian ….ctak! Anak-anak yang secara nyata berlari, tertawa, berbicara, bermain, dan bersentuhan dengan Dea seperti menyentil mind set Dea. Mereka ternyata jauh lebih cerdas daripada yang Dea kira. Pada logika mereka yang tidak terikat pada klise-kilise dan stereotipe, terkandung kelirisan dan berbagai metafor yang bisa menonjok hampir semua persepsi tentang berbagai aspek kehidupan.
Mereka menangkap macam-macam isu, bahkan isu politik yang sedang berkembang, lalu secara menakjubkan mampu menghubungkannya dengan keseharian. Mereka bisa membangun konsep Tuhan melalui cara berpikir yang sangat sederhana tapi ternyata filosofis. Mereka punya kecerdasan emosional untuk keluar dari persoalan. Tidak betul anggapan “anak-anak cepat melupakan masalah”. Mereka bukan lupa, mereka mengatasinya.
Waktu Dea sungguh-sungguh masuk ke dunia bermain mereka (betul-betul terlibat, lho, bukan sekedar menemani mereka bermain) terasa benar bahwa anak-anak adalah seniman yang kreatif dan produktif. Mereka bermain di mana saja dan kapan saja. Lingkup inspirasi mereka tidak dibatasi ruang dan waktu. Dalam semua permainan, mereka mensimulasikan kenyataan dalam kehidupan, seperti seniman merepresentasikan realitas pada ungkapan mereka.
Melihat betapa dalam makna yang bisa dijaring dari kegiatan bermain di dunia anak-anak itu, Dea jadi percaya ada sebuah wilayah pada ekspresi seni yang berpangkal pada kesenangan bermain.
Dea percaya anak-anak makhluk yang cerdas. Itu sebabnya, Dea tidak takut menggunakan bahasa liris yang metaforis dalam menuturkan kisah Adin; Dea yakin anak-anak punya cara sendiri untuk memaknainya.
Karena….
Puisi tidak pernah jauh dari anak-anak .
Sebab…
seluruh hidup mereka adalah puisi….
Salamatahari, semoga cerah…
Sundea
(matahari jam lima pagi)
Judul : Dunia Adin
Oleh : Sundea
Ilustrasi : Triguntur
Penyunting : Andhy Romdani
Jumlah halaman : 264 halaman
Harga : Rp 39.000, 00
Penerbit : Read! Mizan
Isbn : 978-979-3828-565
format : 14,5 x 19 cm
kategori : cerita anak
Akan terbit sekitar bulan Oktober
——–
Adin adalah gadis kecil yang berusia enam tahun. Dia suka menggambar dunia di dinding kamarnya. Dunia Adin warna-warni dan kaya cerita. Di sana dia dan Coki, sahabatnya, pernah menyelamatkan seekor ikan yang hampir dimasak. Pernah juga bertemu penyihir yang ternyata bidadari. Adin juga pernah bermain dengan Dombiru, seekor domba berwarna biru. Pernah pula mewarnai melati jepang dengan spidol ungu.
Seorang teman tertarik pada dunia Adin. Dia pun mencatatkan keseharian Adin untuk kita semua. Setelah terlibat dalam keseharian Adin, mungkin kamu pun akan menemukan dirimu di sana. Lalu tanpa kamu sadari, dunia Adin tahu-tahu sudah menjadi duniamu juga.